PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA

Pertama-tama, perkembangan emosi pada remaja adalah proses yang kompleks dan bervariasi. Mereka mulai mengalami perasaan dan reaksi emosional yang lebih intens dan rumit. Selama masa remaja, perasaan senang, sedih, marah, takut, dan cemburu sering kali dirasakan dengan intensitas yang lebih besar daripada sebelumnya. Kemarahan yang ditunjukkan dapat memiliki motif seperti yang telah diungkapkan oleh Paul Ekman bahwa meski kemarahan ditunjukkan melalui kata-kata kemarahan ataupun teriakan yang disampaikan dengan lebih disengaja tetapi peluapan kemarahan memiliki motif yang sama, yakni untuk menyakiti target (Ekman, 2012) 1 .Remaja juga mulai mengalami perubahan dalam cara mereka mengatur dan mengelola emosi mereka. Mereka belajar mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih dewasa dan efektif.

PERKEMBANGAN EMOSI

perkembangan emosi pada remaja melibatkan perubahan yang signifikan dalam intensitas dan kompleksitas perasaan mereka. Mereka mulai mengalami berbagai emosi, termasuk senang, sedih, marah, takut, dan cemburu, dengan intensitas yang lebih besar daripada sebelumnya.Menurut Gisell et al. dalam Hurlock (2010), remaja berusia 14 tahun sering kali mudah marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung meledak, dan tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja berusia 16 tahun mengatakan bahwa mereka tidak punya keprihatinan. Jadi adanya “Strom and Stress” dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya masa remaja. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan hormonal, perkembangan otak, dan tuntutan sosial yang meningkat. Tingginya emosi, terutama dikarenakan anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan pada masa kanak-kanak ia kurang siap menghadapi kondisi itu.Remaja juga mengalami perubahan dalam cara mereka mengatur dan mengelola emosi mereka. Mereka belajar mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih dewasa dan efektif. 

FAKTOR YANGMEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA

  1. perubahan jasmani, diakibatkan hormon.
  2. pola interaksi lingkungan, 1) lingkungan keluarga sangat berpengaruh pada emosional remaja, jika remaja tersebut memiliki keluarga yang baik, maka akan terbentuk suatu emosi yang terkontrol. Begitupun sebaliknya jika remaja memiliki keluarga yang memiliki sifat keras, akan berdampak negatif pada emosi anak tersebut. 2) lingkungan sekolah, interaksi pertemanan yang berubah mengakibatkan emosional seseorang akan berubah mengikuti lingkungan tersebut. 3) Perubahan pandangan luar, globalisasi yang terjadi sangat terpengaruh oleh internet. Dari internet ini semua perlakuan atau sudut pandang dari berbagai macam manusia bertemu. Serta, para pengguna remaja tersebut cenderung mengikuti apa yang ia sukai (Santrock, 2012).

Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masaremaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa dewasaawal, identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umurkronologis dan mental age-nya.Berbagai masalah juga muncul denganbertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa awal adalah masaperalihan dari ketergantungan kemasa mandiri, baik dari segi ekonomi,kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depansudah lebih realistis.Seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal beradadalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau tidakmelibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam bentuk keintiman maka iaakan mengalami apa yang disebut isolasi (merasa tersisihkan dari oranglain, kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).

Perkembangan emosi dan perkembangan bahasa pada remaja adalah dua aspek penting yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara perkembangan emosi dan perkembangan bahasa pada remaja. Remaja yang memiliki pemahaman dan pengelolaan emosi yang baik cenderung menunjukkan keterampilan bahasa yang lebih maju. Kemampuan empati, dalam memahami dan merasakan perasaan orang lain, juga memiliki hubungan yang kuat dengan keterampilan bahasa remaja.Dalam konteks ini, penting bagi para remaja, orang tua, dan pendidik untuk mendukung perkembangan emosi dan bahasa pada remaja. Menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, serta memberikan kesempatan untuk berlatih berbicara dan mendengarkan, dapat membantu remaja mengembangkan keterampilan emosionalnya.