Sebagian besar murid
generasi sekarang menganggap pelajaran Bahasa Jawa sebagai momok. Jangankan
untuk memahami tata bahasa, kosa kata sehari-hari saja terkadang mereka masih
canggung dan sering tidak mengerti artinya. Sebagai guru Bahasa Jawa, saya
sering dihadapkan pada wajah-wajah bingung atau mengantuk ketika materi sudah
memasuki wilayah gramatikal, salah satunya adalah materi Jenis-jenis Tembung
(kelas kata).
Jika hanya
mengandalkan metode ceramah dan mencatat di papan tulis, saya yakin materi Tembung
Aran (kata benda), Tembung Kriya (kata kerja), hingga Tembung
Kahanan (kata sifat) hanya akan lewat begitu saja di telinga mereka.
Belajar bahasa butuh praktik, pembiasaan, dan selain itu juga butuh suasana
yang menyenangkan. Berangkat dari keresahan tersebut, saya memutuskan untuk
"menyulap" kelas menjadi sebuah arena kompetisi yang memacu
adrenalin. Senjatanya sederhana: Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berisi
huruf-huruf acak.
Misi Detektif Kata: Mencari Makna di Balik Huruf Acak
Setelah materi
dasar tentang jenis-jenis tembung saya sampaikan diawal jam pelajaran,
saya membagi murid ke dalam beberapa kelompok. Wajah-wajah yang tadinya pasif
seketika berubah penasaran saat saya membagikan LKPD. Di dalamnya tidak ada
pertanyaan pilihan ganda atau esai yang membosankan, melainkan lautan huruf
acak yang harus mereka pecahkan layaknya permainan word search atau scrabble.
Saya memberikan
waktu yang cukup panjang, yaitu sekitar 30 menit. Tantangannya ada dua: pertama,
menemukan kata: mereka harus merangkai atau menemukan kata berbahasa
Jawa dari tumpukan huruf acak tersebut. Kedua, mengklasifikasikan kata: ini
adalah tantangan utamanya. Setelah kata ditemukan, mereka tidak boleh langsung
puas. Mereka harus berdiskusi menentukan kata tersebut masuk ke dalam jenis tembung
apa.
Aturan Main yang Memacu Jantung: +10 atau -5?
Untuk membuat
permainan ini semakin hidup, saya menerapkan sistem reward and punishment
dalam bentuk poin. Setiap kali sebuah kelompok berhasil menemukan kata dan
sudah sepakat menentukan jenis tembung-nya, perwakilan kelompok harus
secepat kilat angkat tangan. Jika jawaban mereka benar baik kata maupun
klasifikasi tembung-nya mereka berhak mendapatkan poin +10. Namun, di
sinilah letak keseruannya. Jika mereka terburu-buru angkat tangan dan ternyata
klasifikasi tembung-nya salah, bukannya mendapat nol, kelompok tersebut
justru akan mendapat pengurangan nilai atau -5! Aturan minus ini ternyata
membawa dampak psikologis yang luar biasa. Anak-anak menjadi lebih kritis dan
tidak asal tebak. Terjadi diskusi sengit namun produktif di dalam kelompok.
"Iki
'Mangan' (makan) berarti Tembung Kriya, kan? Yakin ya? Awas lho lek salah minus
lima!" Kira-kira begitulah riuhnya obrolan di meja mereka. Suasana kelas
yang tadinya sepi berubah menjadi arena kompetisi yang bergemuruh. Ada sorak sorai
kelompok yang berhasil meraup poin 10 dan ada helaan napas kecewa bercampur
tawa ketika kelompok mereka terpaksa menelan kenyataan pengurangan 5 poin
akibat kurang teliti.
Waktu 40 menit
berlalu tanpa terasa. Tidak ada satu pun murid yang terlihat mengantuk atau
bosan. Melalui permainan sederhana ini, anak-anak sebenarnya sedang melakukan
analisis tata bahasa tingkat tinggi tanpa mereka sadari. Mereka belajar
berkolaborasi, berdebat secara sehat, mengambil keputusan dengan cepat, dan
yang terpenting mereka berhasil memahami materi jenis-jenis tembung
dengan rasa bahagia.
Sebagai guru
melihat antusias mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk menjawab
pertanyaan Bahasa Jawa adalah sebuah kepuasan tersendiri. Pengalaman ini
membuktikan bahwa materi yang dianggap kaku dan tradisional pun bisa disajikan
dengan cara yang sangat relevan dan dekat dengan dunia anak-anak, yaitu
bermain. Pada akhirnya, melestarikan Bahasa Jawa di kalangan generasi muda
tidak cukup hanya dengan menyuruh mereka membaca buku teks. Kita harus berani
berinovasi, mengubah ruang kelas menjadi ruang bermain yang menantang, di mana
setiap kata yang mereka temukan adalah sebuah kemenangan kecil untuk
melestarikan budaya bangsa.