Mengenal Interaksi Sosial Disosiatif Melalui Karya Siswa SMPN 1 Kandat

Mengenal Interaksi Sosial Disosiatif Melalui Karya Siswa SMPN 1 Kandat

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu melakukan interaksi dengan orang lain, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Melalui interaksi tersebut, setiap individu dapat bekerja sama, berkomunikasi, bertukar pendapat, dan membangun hubungan sosial.

Namun, interaksi sosial tidak selalu menghasilkan hubungan yang harmonis. Perbedaan kepentingan, pendapat, tujuan, maupun cara pandang dapat menimbulkan persaingan dan pertentangan. Proses sosial yang mengarah pada persaingan atau pertentangan tersebut dikenal sebagai interaksi sosial disosiatif.

Melalui pembelajaran IPS, siswa diajak untuk tidak hanya memahami konsep interaksi sosial secara teori, tetapi juga mampu mengenali berbagai bentuknya dalam kehidupan nyata.

Mengenal Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Disosiatif

Interaksi sosial disosiatif secara umum terdiri atas tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravensi, dan konflik.

1. Persaingan

Persaingan merupakan proses sosial ketika individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan tertentu dengan bersaing dengan individu atau kelompok lain.

Persaingan dapat ditemukan dalam berbagai kehidupan, termasuk di lingkungan sekolah. Misalnya, siswa bersaing untuk memperoleh nilai terbaik, menjadi juara kelas, memenangkan perlombaan, atau menunjukkan prestasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Persaingan tidak selalu memberikan dampak negatif. Apabila dilakukan secara sehat dan sportif, persaingan dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk meningkatkan kemampuan, kedisiplinan, kreativitas, dan prestasinya.

2. Kontravensi

Kontravensi merupakan proses sosial yang berada di antara persaingan dan konflik. Bentuknya dapat berupa rasa tidak suka, penolakan, keraguan, sindiran, atau sikap menentang terhadap pihak lain, tetapi belum sampai menjadi konflik terbuka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kontravensi dapat muncul ketika seseorang tidak menyetujui pendapat orang lain tetapi tidak menyampaikannya secara langsung. Contohnya adalah menyebarkan rumor, menyindir teman, menunjukkan sikap tidak senang terhadap keberhasilan orang lain, atau menolak suatu keputusan kelompok.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pertentangan dalam interaksi sosial tidak selalu terlihat secara terbuka. Terkadang, pertentangan muncul melalui sikap, perkataan, maupun tindakan secara tidak langsung.

3. Konflik

Konflik merupakan bentuk interaksi sosial disosiatif yang terjadi ketika terdapat pertentangan antara individu atau kelompok karena adanya perbedaan kepentingan, pendapat, nilai, maupun tujuan.

Contoh konflik dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti perselisihan antarteman, perbedaan pendapat dalam kelompok, atau pertentangan antarkelompok.

Konflik dapat memberikan dampak negatif apabila tidak diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi, sikap saling menghargai, musyawarah, dan kemampuan menyelesaikan masalah agar konflik tidak berkembang menjadi pertentangan yang lebih besar.

Belajar IPS Melalui Kehidupan Nyata

Materi interaksi sosial disosiatif sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan siswa. Persaingan dalam memperoleh prestasi, perbedaan pendapat dalam kelompok, rasa tidak setuju terhadap suatu keputusan, hingga perselisihan antarteman merupakan contoh fenomena sosial yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar.

Melalui pembelajaran yang kontekstual, siswa diajak untuk mengamati berbagai fenomena tersebut dan menghubungkannya dengan konsep yang telah dipelajari dalam mata pelajaran IPS.

Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya berorientasi pada hafalan konsep, tetapi juga mendorong siswa untuk mengamati, memahami, menganalisis, dan menyampaikan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan mereka.

Karya Siswa sebagai Media Pembelajaran

Sebagai bentuk penerapan pembelajaran IPS, siswa SMPN 1 Kandat mengembangkan sebuah karya dalam bentuk website katalog digital yang membahas berbagai bentuk interaksi sosial disosiatif.

Melalui karya ini, siswa mencoba menghubungkan materi yang dipelajari di kelas dengan fenomena sosial yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembuatan karya memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Siswa tidak hanya mempelajari pengertian persaingan, kontravensi, dan konflik, tetapi juga belajar untuk mencari informasi, mengolah informasi, mengembangkan ide, bekerja secara kreatif, serta menyajikan hasil pemikirannya melalui media digital.

Karya tersebut menjadi salah satu bentuk bahwa pembelajaran IPS dapat dikembangkan menjadi pembelajaran yang kreatif, kontekstual, kolaboratif, dan berbasis literasi digital.

Dari Materi Menjadi Karya

Karya siswa ini menunjukkan bahwa materi IPS dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui website katalog digital, siswa memiliki ruang untuk menyampaikan pemahaman mereka dengan cara yang lebih kreatif. Mereka belajar bahwa teknologi bukan hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan dan menyebarluaskan karya.

Kegiatan ini sekaligus melatih berbagai keterampilan penting, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, literasi digital, dan kemampuan menghubungkan teori dengan realitas sosial.

Karya Siswa SMPN 1 Kandat dalam Panen Karya MGMP IPS Kabupaten Kediri

Karya tentang interaksi sosial disosiatif ini merupakan salah satu hasil pembelajaran siswa SMPN 1 Kandat yang dikembangkan melalui pemanfaatan media digital.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap proses dan hasil belajar siswa, karya ini akan dipamerkan dalam kegiatan Panen Karya MGMP IPS Kabupaten Kediri.

📅 Rabu, 5 Mei 2027
📍 Panen Karya MGMP IPS Kabupaten Kediri

Pameran ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk memperkenalkan hasil karya mereka sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran IPS tidak berhenti pada pemahaman konsep di dalam kelas.

Melalui kegiatan Panen Karya, hasil belajar siswa dapat menjadi bagian dari ruang berbagi, apresiasi, dan inspirasi bagi peserta didik maupun pendidik lainnya.

Karya ini menjadi bukti bahwa ketika siswa diberikan kesempatan untuk mengamati, berpikir, berkreasi, dan berkarya, pembelajaran dapat menghasilkan sesuatu yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga memiliki nilai kreativitas dan pengalaman nyata.

Pesan Pembelajaran

Melalui pembelajaran tentang interaksi sosial disosiatif, siswa diharapkan mampu memahami bahwa persaingan, kontravensi, dan konflik merupakan bagian dari dinamika kehidupan sosial.

Yang terpenting bukan hanya mengenali bentuk-bentuknya, tetapi juga belajar bagaimana menyikapinya secara bijaksana. Persaingan dapat dilakukan secara sportif, perbedaan pendapat dapat diselesaikan melalui komunikasi, dan konflik dapat dikelola melalui musyawarah serta sikap saling menghargai.

Pada akhirnya, pembelajaran IPS mengajarkan siswa untuk memahami masyarakat sekaligus mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat yang mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, berkomunikasi dengan baik, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.

“Belajar IPS bukan hanya memahami konsep, tetapi memahami kehidupan dan lingkungan sosial di sekitar kita.”


KARYA SISWA SMP NEGERI 1 KANDAT

Interaksi Sosial Disosiatif | Pembelajaran IPS | Literasi Digital

Dipamerkan dalam
PANEN KARYA MGMP IPS KABUPATEN KEDIRI

Rabu, 5 Mei 2027

“Dari pembelajaran di kelas, menjadi karya. Dari karya siswa, menjadi inspirasi.”